Customer Service

WISATA TRATAG

Bab 1 dari 9

Bab 2
100%

Bab 1: CHAPTER 1 : PRIA BALI BAHASA SUDIRMAN

Malam baru saja jatuh melewati batas Isya di salah satu sudut pinggiran Jakarta. Tubagus Gavin Mahendra berjalan gontai menyusuri gang sempit menuju kompleks perumahannya. Pegal di kedua kakinya terasa sangat menyiksa setelah hampir sepuluh jam berdiri melayani tamu dalam sebuah acara pernikahan. Di usianya yang baru dua puluh tahun, Gavin hanyalah seorang "waitress" cabutan berpenghasilan pas-pasan.

Nama "Tubagus Gavin Mahendra" sekilas terdengar bagaikan keturunan bangsawan dari Pulau Dewata yang anggun. Realitanya, Gavin tidak bisa merangkai satu kalimat pun dalam bahasa Bali. Jika ada yang menyapanya dengan ungkapan selamat pagi khas Bali, Gavin hanya bisa membalasnya dengan cengiran lebar khas anak Jakarta Selatan yang kebingungan. Satu-satunya hal berbau Bali yang melekat padanya hanyalah nama di Kartu Tanda Penduduk dan garis rahang yang tegas.


Di samping Gavin, berjalanlah Topan, teman satu profesi yang memiliki postur tubuh kurus kecil namun tingkahnya selalu heboh melampaui logika. Topan menyeret kakinya seraya menyisir rambut dengan jemari, bergaya ala aktor drama Korea yang baru selesai menjalani syuting adegan laga konyol.

"Vin, sumpah ya, kaki gua rasanya kayak mau copot. Udah jaga es buah, nuang2, clear up muter2in areal. Berdiri jagain makanan aja loyo masih ditambah kudu clear up!" keluh Topan dengan nada suara cempreng yang dramatis sambil buang sarung tangan plastik yang masih nyangkut di saku celana hitamnya.

"Bapak-bapak di meja nomor empat tadi nambah es buah sampai lima kali. Dia pikir gua ini tempat penampungan es buah berjalan apa?"

"Sabar, Pan. Yang penting budget hari ini cair langsung transfer," balas Gavin tenang seraya merapikan celana kain hitamnya yang kusam.

Namun, langkah Gavin mendadak terhenti di belokan gang. Bulu kuduknya berdiri seketika. Di ujung gang menuju kompleks mereka, tampak pendar cahaya terang dari sebuah lampu neon panjang yang dipasang asal di tiang listrik. Di bawah neon cahaya putih itu, sekelompok bapak-bapak kompleks tampak berkumpul. Ada yang mengenakan baju koko, sarung yang dislempangkan di leher, serta peci hitam. Mereka duduk melingkar di atas tikar di teras salah seorang rumah warga, ada yang berdiri di depan bergerombol dan ada yang jongkok2 sambil minum kopiditambah kursi-kursi plastik warna hijau dan biru, jenis kursi yang paling sering Gavin lihat di tempat orang meninggal.

Di atas meja kayu rakitan di tengah mereka, berjajar cangkir-cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap, berdampingan dengan toples kaleng berisi kacang dan sedikit jajanan pasar.


Jantung Gavin berdegup kencang. Wajahnya yang semula tenang mendadak pucat pasi. Gavin punya satu ketakutan konyol yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun selain Topan : ia sangat parno dengan hal-hal yang berkaitan dengan kematian, dari sekadar bendera kuning yang bergoyang di tiang listrik sampai kerumunan bapak-bapak tahlilan. Bagi Gavin, pemandangan kursi plastik dan baju koko di tengah malam adalah pertanda buruk yang sanggup membuat lututnya lemas.

"Pan... Pan..." bisik Gavin memegang erat lengan kemeja Topan, matanya tidak berkedip menatap kerumunan itu.


(Instrumen tegang)


"Kenapa sih lu? Tiba-tiba ngerem mendadak gini" sahut Topan bingung.

"Itu... bapak-bapak ramai banget ya... pakai baju koko sama ada kursi plastik. Ada yang meninggal ya di RT kita?" tanya Gavin dengan suara gemetaran.

Topan memicingkan matanya, memperhatikan kerumunan bapak-bapak di depan sana.

"Lagi kumpul2 doang kali, OVT banget si lu!" Ucap Topan santai

"Kan lu tau Pan gue tu parnoan" tegas Gavin sambil aba2 berjalan cepat setengah lari diiringi suara Gavin meninggalkan Topan

"Waaaaa....." Seru Gavin ga peduli diliatin orang kanan kiri yang penting dia selamat

Sementara itu para warga bapakk-bapak hanya bereaksi bingung melihat kelakuan atau tingkah Gavin

"Dih, ni bocah udah kepala dua masih aja kelakuan kepala satu" gumam Topan sambil jalan senyum ke arah para warga bapak-bapak yang lagi duduk-duduk itu sambil memastikan kalau emang tidak ada orang meninggal disitu


"Vin..Vin! Ah elah... Tungguin woi, uda jauh kali" seru Topan sambil teriak

Gavin menghentikan larinya dan Topan menghampiri sambil rangkul pundak Gavin

"Aduh, repot banget punya temen begini. Gimana lu mau punya "Wedding Organizer" sendiri kalau liat bapak-bapak kumpul, ada neon, ada kursi plastik aja muka lu udah kayak nemu pocong?" Seru Topan

"Beda kali Pan. WO kan hubungannya sama janur kuning bukan sama bendera kuning" celoteh Gavin

Di dalam hatinya yang paling dalam, ucapan Topan ada benarnya.

"Trus tadi lu liat ngga ada apaan tadi?" Sambung Gavin kepo

"Penakut tapi kepoan l! Ya ga ada apa2?" Jawab Topan kesel

"Trus ngapain ada lampu neon terang banget kayak gitu ya?" Jawab Gavin masih mikir sambil nengok ke belakang

"Ya mana gue tahu. Lagi pingin aja kali, lagian kan lagi bukan musim ada laron. Ya aman aja pake lampu neon putih gitu" cetus Topan


.........


Gavin memang bercita-cita mendirikan sebuah perusahaan Wedding Organizer terbesar di Indonesia. Gavin ingin membangun imperium perencana pernikahan kelas atas yang mampu mewujudkan pesta paling fantastis di negeri ini. Namun, krisis finansial yang menghantam keluarganya dua tahun lalu memaksa Gavin mengubur mimpi kuliah. Ia harus merangkai mimpi itu dari dasar, menjadi pelayan katering murahan yang serba kepanasan dan kelelahan.

Gavin menatap ke langit malam Jakarta yang tanpa bintang, menanamkan janji di dalam dadanya. Ia tidak akan menjadi pelayan biasa selamanya. Suatu saat nanti, ia yang akan memegang kendali.


Beberapa bulan kemudian.


Matahari Jakarta siang itu menyengat tanpa ampun, memantulkan bayangan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Sudirman pada permukaan mobil-mobil mewah yang melintas. Di antara kemegahan benteng beton bernilai triliunan rupiah tersebut, Tubagus Gavin Mahendra berdiri tegak di depan dinding kaca sebuah hotel berbintang lima.

Waktu telah berlalu, dan kerja keras Gavin membuahkan hasil. Lewat ketelitian, kejujuran, dan kemampuannya merangkul teman-temannya, Gavin resmi dipromosikan dari *waitress* biasa menjadi seorang Kapten Waitress. Di usianya yang baru dua puluh tahun, kini Gavin bertanggung jawab penuh memimpin sebelas anggota krunya.

"Wohooo! Gavin Mahendra, sang kapten baru dari imperium perencana pernikahan! Kenapa melamun di pinggir jalanan Sudirman begini? Lagi menghayal diliput majalah bisnis internasional?"

Sebuah tepukan keras mendarat di bahu kanan Gavin. Topan berdiri di sampingnya dengan seragam katering hitam yang rapi, meski kancing paling atasnya sengaja dibuka. Kacamata hitam murah yang dibeli dari pasar kaget bertengger di hidungnya. Topan menyisir rambutnya yang lebat menggunakan jemari dengan gaya dramatis, mirip sekali dengan adegan masuknya karakter utama dalam drama Korea bergenre hukum.

"Gua kaget, Pan. Jangan nepuk bahu tiba-tiba begitu, bisa ga?" ujar Gavin sambil mengelus bahunya.

"Gaya lu sok serius banget dari tadi, Vin. Gua perhatiin dari seberang jalan, mata lu merem melek natap gedung tinggi. Lu lagi pamer posisi baru lu sebagai kapten ya?" balas Topan seraya menurunkan kacamatanya sedikit ke ujung hidung.

Gavin tersenyum tipis. "Gua cuma lagi mikirin tanggung jawab hari ini, Pan. Hari ini hari pertama gua pimpin tim secara utuh di pernikahan kelas chaebol."

"Yaelah, slow aja kali! Coba lu lihat gaya gua," sahut Topan seraya membusungkan dadanya yang kempis. "Meskipun badan gua irit tempat begini, aura yang gua pancarkan ini aura eksekutif muda. Lu kudu bangga punya tangan kanan kayak gua!"

Gavin menatap Topan dengan raut wajah yang lebih hangat. Bagi Gavin, menjadi kapten bukan untuk bersikap semena-mena seperti kapten-kapten senior yang dulu sering memaki dan menindasnya. Gavin ingin membuktikan bahwa pimpinan yang baik adalah pimpinan yang merangkul dan melindungi anak buahnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar memecah percakapan mereka. Seorang wanita berusia empat puluhan muncul dari arah pintu masuk VIP dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang ditutupi bedak tebal tampak berhiaskan peluh, sementara tangannya sibuk memegang clipboard berlogo bunga. Wanita itu adalah Bu Tita, pemilik bisnis perencana pernikahan bernama AYU PUSPA TITA.

Gavin segera membetulkan posisi berdirinya. "Selamat siang, Bu Tita."

Bu Tita menghentikan langkahnya di depan Gavin dan Topan, mengusap dahinya dengan tisu. "Aduh, Gavin! Kamu masih di sini? Saya dari tadi cari kamu sampai pusing!"

"Maaf, Bu Tita. Saya sedang mengecek kesiapan alat catering dengan Topan di luar. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gavin ramah dan halus.

Bu Tita mengibaskan tangannya di udara dengan gestur sangat panik. "Aduh, kamu tahu sendiri kan, pernikahan nanti malam itu bukan pernikahan orang biasa! Ini pernikahan Raven Mulia Sasongko! Anak dari CEO Perusahaan Sasongko Group! Itu perusahaan terbesar kedua di Indonesia, Gavin!"

"Saya paham betul, Bu. Saya sudah membagi tugas untuk sebelas anak buah saya," jawab Gavin menenangkan.

"Kamu harus pastikan semuanya sempurna, Gavin! Dua saudara saya, Mbak Ayu sama Mbak Puspa, dari tadi pagi ditanya masalah dekorasi meja VIP cuma jawab tidak tahu! Mereka berdua benar-benar lepas tangan! Jadi cuma saya yang pusing sendirian di sini! Oh ya ada satu lagi, pesanan ada 500 pax tapi kemungkinan yang datang ada 1000 pax. Ini diluar perkiraan sekali, buat saya tambah pusing" seru Bu Tita dengan nada suara panik.

Topan yang berdiri di samping Gavin menahan tawa mendengarnya. Nama WO tempat mereka bekerja memang memiliki kepanjangan konyol yang mencerminkan realita pemiliknya: Ayu dan Puspa Tidak Tahu.

"Baik, Bu Tita. Ibu tidak perlu khawatir. Saya yang akan bertanggung jawab penuh atas seluruh alur pelayanan katering dari awal sampai akhir acara," tegas Gavin mantap. "Saya pastikan tim saya bekerja sesuai standar."

Bu Tita bernapas lega. "Bagus kalau begitu. Kamu itu memang paling bisa diandalkan, Gavin. Jangan bikin saya kecewa ya."

Setelah Bu Tita kembali ke dalam gedung, Topan menyenggol lengan Gavin. "Gila ya, Bu Tita kalau panik mukanya mirip banget sama ibunya karakter antagonis di drakor makjang. Tinggal dikasih efek suara petir aja udah pas banget."


Gavin menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sahabatnya itu. Ia membenarkan tatanan seragam hitamnya dan bersiap melangkah masuk. Hari ini adalah pembuktian terbesarnya. Namun, Gavin sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu kemewaha

n pernikahan tersebut, sebuah tragedi berdarah sedang menanti.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab