Bab 2 dari 9
Langkah kaki Gavin berderap mantap menyusuri lorong belakang hotel berbintang lima yang megah itu. Karpet tebal yang membentang di lorong utama memang terasa empuk dan mewah, tetapi di balik pintu lipat berlapis peredam suara, lorong service area adalah dunia yang sepenuhnya berbeda. Di sinilah denyut nadi sebenarnya dari sebuah acara pernikahan berlangsung: riuh, sibuk, berbau uap masakan, dan dipenuhi oleh hilir mudik pekerja seragam hitam yang berkejaran dengan waktu.
Di ruang istirahat staf katering yang terletak di dekat dapur utama, sebelas orang anak buah Gavin sudah berkumpul. Ruangan itu tidak terlalu besar, dipenuhi loker besi kusam dan beberapa bangku panjang. Atmosfer di dalam ruangan terasa seperti ruang ganti tim olahraga amatir yang hendak bertanding di laga final, lengkap dengan aroma minyak angin, pemicu stres, dan minyak rambut murah yang beradu di udara.
Gavin berdiri di tengah ruangan. Di sampingnya, Topan sudah pasang gaya paling mantap. Kacamata hitamnya kini diselipkan di kerah kemeja, sementara kedua tangannya disedekapkan di dada.
"Oke, semuanya kumpul sebentar!" seru Gavin dengan nada tenang namun tegas. "Gua minta waktu kalian lima menit sebelum kita mulai penyebaran ke ballroom utama."
Sebelas pasang mata langsung tertuju pada Gavin. Mereka adalah rombongan pelayan yang dihimpun Gavin dari berbagai sudut Jakarta. Ada delapan cowok dan tiga cewek, masing-masing membawa keunikan yang sering kali menguji ketahanan mental Gavin sebagai seorang pimpinan.
"Pertama-tama, gua mau tegaskan satu hal," lanjut Gavin seraya menatap mereka satu per satu. "Malam ini bukan acara ecek-ecek. Ini pernikahan anak CEO Sasongko Group. Pengantin prianya namanya Raven Mulia Sasongko, dan pengantin ceweknya Cicilia Putri Wulandari. Ibu Tita tadi udah wanti-wanti banget ke gua, pesanan makanan awal cuma 500 pax, tapi prediksi tamu yang datang bisa tembus 1000 pax."
Mendengar angka tersebut, suasana ruangan mendadak gaduh.
"Gila! Seribu orang? Itu mau nikahan apa mau demonstrasi?" celetuk Kipli, cowok bertubuh jangkung yang gampang latah. Karena kaget, tangan Kipli refleks memperagakan gerakan jurus silat melambai-lambai ke udara, hampir saja mengenai dagu Gojali yang berdiri di sebelahnya.
Gojali, cowok berbadan kekar bagaikan binaragawan dengan tato naga tipis di lengan bawahnya, langsung mundur dua langkah sambil menutup wajahnya pakai piring melamin. "Aduh, Kipli! Jangan jurus mendadak gitu dong! Gua kaget tahu!"
"Lu badan doang segede lemari dua pintu, kena kibasan tangan Kipli aja ketakutan!" semprot Mona, salah satu pelayan cewek. Mona memiliki wajah datar tanpa ekspresi yang sangat mirip dengan lukisan Mona Lisa. Mau ada petir menyambar atau piring pecah berkeping-keping di depannya, raut wajah Mona tetap akan seperti itu, dingin dan tak tersentuh.
"Bukan gitu, Mona... Gua kan refleksnya lemah kalau masalah fisik," gumam Gojali dengan suara pelan yang terdengar agak menciut.
Topan melangkah maju satu langkah, berdehem keras seraya menyisir rambutnya ke belakang pakai jari. "Harap tenang, anak-anak muridku! Di sini ada gua, tangan kanan Kapten Gavin. Selama kalian mengikuti komando dari gua dan Gavin, seribu tamu itu bakal bertekut lutut di hadapan keagungan tim kita!"
"Dih, apaan sih Topan? Badan kecil kayak lidi kering aja gaya lu udah mirip jenderal perang drakor," potong Sisil seraya tersenyum manis. Sisil adalah pelayan cewek paling ramah di tim. Saking ramahnya, Sisil bahkan bisa menyapa tiang listrik atau patung dekorasi kalau dia sedang senggang.
"Tau nih Topan. Mending lu diem deh, bikin kepala pusing aja," tambah Tari, cewek perkasa di tim mereka yang sanggup mengangkat tumpukan piring katering hingga dua puluh biji sekaligus tanpa bantuan troli.
Gavin mengangkat tangannya, memberi isyarat agar perdebatan konyol itu dihentikan sebelum meluas. "Sudah, sudah. Fokus dulu. Masalah kekurangan makanan ini bakal jadi tantangan paling berat buat kita. Tim katering dapur utama lagi berusaha back-up porsi cadangan, tapi tugas kita di lapangan adalah mengatur alur antrean dan piring kotor supaya tidak menumpuk."
Gavin mulai membagikan pembagian tugas yang sudah ia susun rapi di catatan kecilnya.
"Coki, lu sama Gojali pegang area VIP buffet di sayap kanan. Lu yang atur jalurnya, Coki," perintah Gavin.
Coki, cowok yang ngakunya analis kriminal karena kebanyakan menonton konten investigasi di YouTube, langsung mengangguk sok serius. "Siap, Kapten. Gua bakal petakan pergerakan tamu pakai pola geometri supaya tidak ada penumpukan di area makanan berat."
"Gak usah bawa-bawa geometri, Coki. Yang penting makanan jangan sampai kosong," sela Gavin. "Lalu Kipli, Bagas, Bimo, sama Jefri, kalian pegang area stall makanan ringan sama minuman. Jefri, lu jangan sibuk benerin tatanan rambut lu mulu pakai cermin stand minuman ya."
Jefri, cowok yang selalu merasa dirinya mirip aktor Korea kelas atas, mengusap poninya dengan gaya elegan. "Tenang, Vin. Penampilan memukau dari gua itu bagian dari service excellence buat para tamu VIP."
"Terserah lu deh," Gavin menahan napas sejenak, lalu menatap Udin Piston yang dari tadi sibuk mengulik sesuatu di dalam saku apron atau celemek hitamnya. "Udin, lu bawa apa lagi di saku celana lu?"
Udin Piston menengadah dengan polos. Cowok satu ini punya kebiasaan aneh mengumpulkan berbagai macam peralatan teknik dan memasukkannya ke dalam saku pakaian kerjanya dengan alasan untuk situasi darurat. Dari saku celananya yang menggembung, Udin mengeluarkan sebuah pisau dapur utility katering yang ukurannya agak tipis, selotip kaku, dan sebuah tang kecil.
"Ini buat jaga-jaga, Vin," jawab Udin polos. "Siapa tahu nanti ada gagang pintu yang lepas, atau ada kawat dekorasi yang mengganggu jalan. Mending prepared kan?"
"Ngapain lu bawa pisau katering di saku celana, Din? Lu mau ngelayanin tamu apa mau ngajak duel?" cibir Topan sambil menunjuk-nunjuk Udin.
"Biar cepat aja, Pan. Tadi orang katering dapur bilang pisau kecil begini sering hilang, jadi gua simpan satu buat pegangan," balas Udin santai sambil memasukkan kembali pisau tersebut ke dalam saku dalam celana hitamnya.
Gavin menggelengkan kepala. "Yaudah, terserah lu Din. Tapi awas jangan sampai kepakai buat hal aneh. Lu sama Mona dan Tari pegang area clear up piring kotor di lorong tengah. Sisil, lu bantu menyapa tamu di area pintu masuk VIP."
"Siap, Kapten Gavin!" sahut Sisil dengan senyuman paling cerah.
"Terus gua tugasnya apa, Vin?" tanya Topan sambil membusungkan dada. "Lu pasti mau jadiin gua komandan garis depan kan?"
"Lu ikutan clear up sama Udin," jawab Gavin singkat.
"Lah! Kok gua cuma clear up piring kotor? Level ketampanan gua ini selayaknya berada di area VIP bersulang minum sama para chaebol!" protes Topan tidak terima.
"Gak ada protes. Gua butuh lu di area lorong supaya bisa mantau pergerakan kalau ada masalah," tegas Gavin. "Inget ya semuanya, kita kerja di bawah nama WO AYU PUSPA TITA. Ibu Tita tadi udah setengah histeris. Kalau sampai ada kesalahan fatal dari tim kita, bukan cuma gaji kita yang ditahan, tapi mimpi gua buat bangun WO sendiri juga bisa berantakan di sini."
Seluruh anggota tim mendadak hening. Mereka semua tahu betapa besarnya ambisi dan impian Gavin. Meskipun Gavin paling muda di antara beberapa dari mereka, rasa hormat mereka pada kepemimpinan Gavin sangat tinggi. Gavin tidak pernah membentak atau memperlakukan mereka semena-mena seperti kapten-kapten katering pada umumnya.
"Siap, Kapten! Kita bakal gaungin nama tim kita malam ini!" seru Kipli yang langsung disambut anggukan mantap dari yang lain.
"Oke, semuanya siap-siap. Sepuluh menit lagi pintu ballroom dibuka. Bismilah, mari kita mulai," ucap Gavin memungkasi pengarahan.
Saat sebelas anak buahnya mulai menyebar menuju pos masing-masing, Gavin berdiri sejenak di dekat lorong service. Ia mengusap dadanya yang terasa agak berdebar. Pernikahan megah Raven Mulia Sasongko dan Cicilia Putri Wulandari sudah di depan mata. Dari kejauhan, alunan musik klasik yang megah mulai terdengar dari dalam ballroom. Gavin menarik napas dalam-dalam, meyakinkan dirinya sendiri bahwa malam ini akan berjala
n sempurna tanpa hambatan sama sekali.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya